D i balik riuhnya modernisasi tahun 2026, sebuah pemandangan langka dan menyentuh hati tumbuh subur di Dusun Madukoro, Desa Candimulyo. Ketika sebagian besar dunia sibuk dengan layar digital, di Madrasah Kafabih Al Huda, waktu seolah melambat untuk memberi ruang bagi sebuah perjuangan spiritual yang luar biasa. Pemandangan ini bukanlah tentang anak-anak kecil yang sedang belajar huruf hijaiyah, melainkan tentang barisan ibu-ibu usia 40 hingga 60 tahun yang dengan rendah hati kembali duduk bersimpuh untuk mengeja *Alif, Ba, Ta*. Ibu Mulyono, Ibu Suyono, Ibu Maryanto, dan wajah-wajah tulus lainnya tidak sedang sekadar berkumpul. Mereka sedang melintasi batas rasa malu, mendobrak stigma usia, demi satu tujuan suci: tidak ingin "rugi" di masa tua karena belum lancar membaca Kalam Ilahi. Mengeja di usia senja memang tak semudah di masa muda, namun di setiap getaran bibir mereka saat melafalkan huruf-huruf dasar itu, tersirat sebuah kegigihan yang jauh lebih indah daripada mahakarya manapun.
Fenomena ini jarang sekali ditemui di era sekarang. Menemukan generasi senior yang mau mengakui keterbatasan dan bersedia belajar kembali dari nol adalah sebuah pematahan ego yang luar biasa. Zaman dulu, akses pendidikan agama di desa mungkin tidak seberuntung sekarang. Kerja keras di sawah dan tuntutan hidup seringkali memaksa mereka mengesampingkan keinginan belajar mengaji. Namun, hari ini di Madukoro, spirit itu bangkit kembali. Mereka menyadari bahwa tidak ada kata terlambat untuk mendekat pada sumber cahaya. Keberanian mereka untuk "ngaji alif ba ta" di depan guru yang jauh lebih muda adalah bukti bahwa di Desa Candimulyo, rasa lapar akan ilmu agama mengalahkan rasa sungkan. Inilah yang kita sebut sebagai pembangunan manusia seutuhnya, di mana kematangan usia justru menjadi pemicu untuk memperbaiki bekal ruhani.
"Melihat ibu-ibu mengeja Alif Ba Ta dengan kacamata tuanya, dan bapak-bapak yang mengulang cara wudhu dengan telaten, adalah pengingat bagi kita semua bahwa belajar adalah nafas yang hanya berhenti saat raga tak lagi bernyawa."
— Catatan Kebanggaan Pemdes Candimulyo
Ketulusan ini tak berdiri sendiri. Madrasah Kafabih Al Huda berdenyut murni dari kekuatan swadaya dan keteladanan para tokohnya. Tanpa menunggu bantuan dana formal, Bapak Kepala Dusun secara pribadi mewujudkan kepeduliannya dengan membelikan kitab-kitab bagi para pembelajar dewasa ini. Keteladanan ini pun bak api yang menyambar rumput kering; para pengusaha desa turut tergerak menyisihkan rezeki mereka untuk mendukung operasional madrasah. Tidak berhenti di situ, kaum bapak-bapak Madukoro menunjukkan pengabdian nyata dengan tenaga mereka. Bangku-bangku kayu tempat mereka duduk, dinding yang dicat rapi, hingga papan tulis yang terpasang, semuanya adalah hasil keringat mereka sendiri. Mereka bertukang, mengecat, dan merapikan ruangan ini demi kenyamanan bersama. Ada harmoni yang luar biasa saat 16 orang bapak-bapak dengan tekun belajar tata cara wudhu dan sholat di ruangan yang mereka bangun sendiri dengan penuh cinta.
Profil Pembelajar
Mulai dari Nol
Ibu-ibu usia 40-60 tahun yang tekun mengeja Alif Ba Ta setiap ba'da Isya.
Pilar Swadaya
100% Mandiri
Kitab dari Pak Kadus, dana dari pengusaha desa, dan fisik bangunan hasil kerja bakti bapak-bapak.
Pendampingan yang diberikan oleh Kaum Warisman dan Ustadz Rohman Hidayat adalah kunci dari kenyamanan belajar di Madrasah ini. Mengajar murid usia dewasa membutuhkan kesabaran yang berlapis-lapis. Ustadz Rohman memahami bahwa ibu-ibu ini mungkin butuh waktu lebih lama untuk mengingat satu harakat, atau bapak-bapak yang ototnya sudah kaku saat harus mempraktekkan gerakan wudhu yang presisi. Namun, kesabaran guru bertemu dengan ketulusan murid menciptakan suasana yang cair dan jauh dari kesan menggurui. Di sini, madrasah berubah fungsi menjadi rumah kedua, tempat warga tidak hanya menimba ilmu, tapi juga saling menguatkan dalam ikatan persaudaraan yang kental. Perjuangan mengeja Alif Ba Ta ini secara tidak langsung menjadi benteng moral bagi desa kita tercinta.
Filosofi Peradaban Madukoro
Pemdes Candimulyo memandang bahwa kekuatan sejati sebuah desa terletak pada kemandirian warganya. Madrasah Kafabih Al Huda adalah bukti nyata bahwa ketika masyarakat bersatu dengan swadaya, keterbatasan fasilitas bukan lagi penghalang untuk meraih kemuliaan ilmu.
Kami di Pemerintah Desa Candimulyo menaruh hormat setinggi-tingginya atas inisiatif luar biasa ini. Apa yang terjadi di Dusun Madukoro adalah investasi peradaban yang tak ternilai harganya. Generasi muda desa bisa melihat secara langsung teladan dari orang tua mereka: bahwa rasa malu tidak boleh menghalangi kebenaran, dan keterbatasan tidak boleh menghentikan langkah untuk belajar. Kepada para dermawan, pengusaha desa, dan Bapak Kadus yang telah menjadi jembatan kebaikan, serta para bapak yang telah berkontribusi tenaga mengecat dan membangun fasilitas, semoga setiap huruf yang dieja oleh jemaah menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Mari kita jaga api semangat ini agar terus menyala, menjadikan Candimulyo bukan hanya desa yang subur alamnya, tapi juga bercahaya ruhaninya.
| Aspek Kegiatan |
Detail Realitas |
| Fokus Belajar |
Pemberantasan buta hijaiyah (Alif Ba Ta) untuk Ibu-ibu usia 40-60 tahun. |
| Kemandirian Fisik |
Pengecatan, pembuatan bangku, dan perlengkapan kelas murni tenaga bapak-bapak. |
| Sumber Materi |
Kitab suci disiapkan secara pribadi oleh Bapak Kadus untuk warga. |
| Waktu Belajar |
Setiap hari setelah Isya, dipandu oleh Ustadz Rohman Hidayat & Kaum Warisman. |
Mari kita bayangkan, jika di setiap sudut desa muncul gerakan serupa—di mana kemauan belajar warga didukung penuh oleh swadaya lokal—maka Desa Candimulyo akan bertransformasi menjadi desa percontohan nasional. Perjuangan di Madrasah Kafabih Al Huda ini adalah pengingat bagi kita yang masih muda untuk tidak malas belajar. Kita yang memiliki akses informasi lebih luas seharusnya malu jika melihat kegigihan ibu-ibu di Madukoro. Semoga kisah "Mengeja Cahaya di Usia Senja" ini tidak hanya berhenti sebagai artikel, tapi menjadi inspirasi yang menggerakkan hati kita semua untuk terus bergotong royong membangun desa, lahir dan batin.
Tingkat Partisipasi Swadaya 2026
Kemandirian Sarana Belajar 100% Swadaya Rakyat
Semangat Belajar Generasi Senior Melampaui Target